SUDAH 1439 tahun lebih perjalanan
sejarah Hijrahnya Rasulullah Saw berlalu. Makna hijrah bagi kaum Muslim
memiliki makna yang sangat dalam dan mendasar yaitu suara hati, perasaan yang
sangat mendasar (Alwizdan), mengaktualisasikan nilai-nilai akidah yang bertujuan
untuk memisahkan antara yang hak dan yang batil yaitu dengan berhijrah kepada
Allah Swt secara totalitas.
Hijrah dari kemusyrikan dan kekufuran kepada nilai-nilai
Islam yang murni.
Awal dari hijrahnya kenabian ini bertujuan untuk keluar
dari belenggu masyarakat Jahiliyah dan berbagai unsur budayanya pada masa itu
dan menuju kepada berdirinya Negara Islam di Madinah Munawwarah. Dari awal
hijrah inilah menjadi ujung tombak terbentuknya sejarah Hijriyah yang dikenal
dengan “Taqwim Hijrie; penanggalan Hijriyah atau tahun hijriyah” di kalangan
umat Islam, yang berawal dari hijrahnya Nabi Muhammad Saw dari Makkah ke
Yatsrib yang akhirnya nama ini berubah menjadi nama Madinah Almunawwarah. Makna
Hijrah dan keutamaan hijrah yang Allah Swt gambarkan dalam Alqur’an diantaranya
sebagai berikut,
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أُوْلَـئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللّهِ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ( البقرة [2] : 218)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang
berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah,
dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ” (QS. Albaqarah [2] : 218)
فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لاَ أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ
مِّنكُم مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى بَعْضُكُم مِّن بَعْضٍ فَالَّذِينَ هَاجَرُواْ
وَأُخْرِجُواْ مِن دِيَارِهِمْ وَأُوذُواْ فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُواْ وَقُتِلُواْ
لأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن
تَحْتِهَا الأَنْهَارُ ثَوَابًا مِّن عِندِ اللّهِ وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ
الثَّوَابِ (ال عمران [3] : 195)
Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan
berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang
beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu
adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang
diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan
yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah
Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya,
sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (QS.
Ali Imran [3] : 195)
والسابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان رضى
الله عنهم ورضوا عنه وأعد لهم جنات تجري تحتها الأنهار خالدين فيها أبدا ذلك الفوز
العظيم (التوبة [9] : 100 )
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama
(masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti
mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah
dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di
dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang
besar” (QS. Attaubah [9] : 100)
والذين تبوؤوا الدار والإيمان من قبلهم يحبون من هاجر إليهم، ولا
يجدون في صدورهم حاجة مما أوتوا ويؤثرون على أنفسهم ولو كان بهم خصاصة ومن يوق شح
نفسه فأولئك هم المفلحون (الحشر [59] : 9)
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan
telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor)
‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor)
tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan
kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin),
atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang
dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung”
(QS. Alhasyar [59] : 9)
Dari ayat-ayat Alqur’an di atas makna hijrah mengandung
interpretasi yang begitu luas baik secara ruhiyah, bathiniyah maupun
lahiriyah, baik secara mikro maupun makro. Tahun baru hijriyah atau makna dari
kata “Hijrah” itu sendiri merupakan momentum bagi kaum Muslimin untuk terus
mampu dalam berkreasi, menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, menjunjung
tinggi hak asasi manusia, menciptakan birokrasi yang modern, transparan, rapi
dan bersih, membangun dan menegakkan keadilan hukum yang tegas dan berwibawa,
kemajuan diberbagai bidang seperti politik, sosial, budaya, pendidikan,
ekonomi, industri, informasi, tekhnologi, meliter, dlsb menuju peradaban sebuah
negara yang aman, sejahtera dan makmur yang mampu bersaing dengan negara lain
secara terhormat dan beradab untuk membangun kemaslahatan umat manusia
diseluruh dunia.
Keutamaan Bulan Haram dan Muharram
Tahun baru Islam jatuh diantara bulan Haram yaitu bulan
Muharram. Bulan Haram ada empat dari bulan Arab hijriyah yaitu Dzulqa’dah
(bulan ke-11), Dzulhijjah (bulan ke-12), Muharram (bulan ke-1) dan Rajab (bulan
ke-7), sebagaimana Rasulullah Saw bersabda,
وعن أبي بكرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم خطب في حَجِّتِه، فقال: ألا إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق الله السموات والأرض السنة اثنا عشر شهراً منها أربعة حرم، ثلاثة متواليات ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب مضر بين جمادى وشعبان (الحديث متفق عليه)
Dari Abu Bakar r.a, bahwa Rasulullah berkhotbah ketika
beliau melaksanakan haji, beliau berkata: ketahuilah bahwa zaman itu akan terus
berputar seperti bentuknya. Hari menciptakan Allah Swt pada langit dan bumi itu
dalam setahun sebanyak 12 bulan diantaranya ada 4 bulan Haram, 3 yang
berturutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram sedangkan bulan Rajab
dihimpit antara bulan Jumadi (Jumadil Awwal dan Jumadil Akhir) dan bulan
Sya’ban.( HR. Bukhari- Muslim)
Pada bulan-bula Haram diharamkan berperang terkecuali
jika diperangi, maka boleh melawan mempertahankan diri untuk berperang.
Sebagaimana Allah Swt befirman,
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ .. (التوبة [9] :36)
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua
belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di
antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka
janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu” (QS. Attaubah
[9] : 36)
Pada bulan-bulan Haram digandakan bagi siapa saja yang
melakukan kebajikan begitu juga bagi orang yang melakukan kejahatan, pendapat
ini juga disepakati oleh Imam Qurthubi. Namun sebagian ulama orang yang berbuat
kejahatan pada bulan tersebut tidak digandakan. Menurut Imam Syafi’I dan
kebanyakan para ulama bagi yang berperang tanpa sebab pada bulan –bulan Haram
maka dia wajib membayar Diat.
Keutamaan diantara bulan haram, yaitu pada bulan
Muharram disunnahkan berpuasa sebagaimana Rasulullah Saw bersabda,
عن ابن عباس رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قدم المدينة فوجد اليهود صياماً يوم عاشوراء، فقال لهم رسول الله صلى الله عليه وسلم: (ما هذا اليوم الذي تصومونه؟) فقالوا: هذا يوم عظيم أنجى الله فيه موسى وقومه، و أغرق فرعون وقومه، فصامه موسى شكراً، فنحن نصومه، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (فنحن أحق وأولى بموسى منكم) فصامه رسول الله صلى الله عليه وسلم وأمر بصيامه.. متفق عليه.
“Dari Ibnu Abbas r.a bahwa ketika Rasulullah Saw di
Madinah berjumpa kepada orang Yahudi sedang berpuasa ‘Asura. Rasulullah Saw
berkata kepada mereka: Hari ini hari apa, kenapa kalian berpuasa pada hari ini?
Mereka (orang Yahudi) berkata: Hari ini adalah hari agung, dimana Allah Swt
telah menyelamatkan Musa dan umatnya, dan Allah tenggelamkan Fir’aun dan
pengikutnya, pada hari ini Musa berpuasa karena kesyukurannya tersebut, oleh
karena itulah kami juga (orang Yahudi) melakukan puasa pada hari ini (hari
‘Asyura). Berkata Rasulullah Saw: Maka kamilah yang lebih berhak terhadap Musa
daripada kamu sekalian (orang Yahudi), maka Rasulullah Saw berpuasa dan
memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa (pada hari ‘Asyura) ” (HR. Bukhari
Muslim)
Keutamaan lain puasa ‘Asyura, bahwa Allah Swt
menghapuskan dosa-dosa hambanya setahun yang lalu. Sebagaimana Rasulullah Saw
bersabda,
عن أبي قتادة أن رجلاً سأل النبي صلى الله عليه وسلم عن صيام يوم
عاشوراء، فقال: إني أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله (رواه مسلم)
“Dari Abu Qatadah, ada seseorang bertanya kepada Nabi
Saw tentang puasa ‘Asyura (10 Muharram) Sesungguhnya (kelebihan bagi orang tang
berpuasa ‘Asyura) adalah Allah Swt menghapuskan dosanya satu tahun yang lalu ”
(HR. Muslim)
Rasulullah sangat suka dan selalu melakukan puasa
‘Asyura untuk mencari pahala dan harapan keredaan Allah Swt, sebagaimana sabda
beliau,
وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال: ما رأيتُ النبي صلى الله عليه وسلم
يتحرّى صيام يوم فضله على غيره إلا هذا اليوم يوم عاشوراء، وهذا الشهر يعني شهر
رمضان ( رواه البخاري) ومعنى يتحرى، أي: يقصد صومه لتحصيل ثوابه والرغبة فيه
.
“Dari Ibnu Abbas r.a berkata: tidaklah aku melihat Rasulullah Saw bermaksud
untuk berpuasa mengharapkan pahala dan kelebihannya selai puasa Ramadhan yaitu
beliau puasa ‘Asyura (10 Muharram) ” (HR. Bukhari)
Namun Nabi Muhammad Saw menganjurkan kepada umatnya
untuk berpuasa tiga hari pada bulam Muharram yaitu pada tanggal 9, 10 dan 11
Muharram untuk membedakan puasanya kaum Muslimin dan puasanya orang-orang
Yahudi, sebagaimana sabda beliau,
عن ابن عباس رضي الله عنهما، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (خالفوا اليهود صوموا يوماً قبله أو يوماً بعده)، أخرجه أحمد وابن خزيمة.
“Dari Ibnu Abbas r.a Rasulullah Saw bersabda: Kamu
bedakanlah (puasa pada bulan Muharram) dengan kebiasaan orang Yahudi,
berpuasalah kamu sehari sebelumnya (10 Muharram) dan sehari sesudahnya (sesudah
10 Muharram) yaitu 9, 10 dan 11 pada bulan Muharram” (HR. Ahmad dan Ibnu
Khuzaimah)
Rasulullah Saw juga membedakan kelebihan puasa puasa
putih (Shaum Yaum Albidh), puasa Ramadhan, puasa ‘Arafah dan puasa ‘Asyura,
sebagaiman sabda beliau,
عن أبي قتادة رضي الله عنه : عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ثلاث من كل شهر، ورمضان إلى رمضان، فهذا صيام الدهر كله، صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفّر السنة التي قبله، والسنة التي بعده ، وصيام يوم عاشوراء أحتسب على الله أن يكفِّر السنة التي قبله . ( رواه أحمد في مسنده ورواه مسلم في صحيحه ورواه أبو داود في سننه ورواه
الترمذي في سننه ورواه ابن خزيمة في صحيحه )
“Dari Abu Qatadah r.a. Rasulullah Saw bersabda: 3 hari
perpuasa setiap bulanya, berpuasa Ramadhan setiap tahunnya, maka ini sama
seperti berpuasa sepanjang tahun. Puasa pada hari ‘Arafah kelebihannya bahwa
Allah Swt menghapuskan dosanya satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan
datang. Dan puasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram) keutamaannya bahwa Allah Swt
menghapuskan dosanya satu tahun yang lalu” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud,
Atturmudzi, dan Ibnu Khuzaimah).
Menurut Imam Nawawi dosa yang diampuni adalah
dosa-dosanya yang kecil bukan dosa-dosa besar .
Jika melakukan puasa ‘Asyura hanya pada hari tanggal 10
Muharram saja tidak mengapa, sebagaimana sabda Nabi Saw,
عن ابن عباس – رضي الله عنهما – قال: أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم بصوم يوم عاشوراء يوم العاشر (رواه الترمذي في سننه ، وقال : حديث ابن عباس حديث حسن صحيح)
“Dari Ibnu Abbas r.a, RAsulullah
Saw memerintahkan untuk berpuasa pada hari ‘Asyura yaitu hari yang ke sepuluh
bulan Muharram” (HR. Atturmudzi)
Kesimpulan
Tahun baru Islam 1435H ini dan keutamaan dari bulam
Muharram dengan melakukan puasa ‘Asyura dan amalan-amalan sunnah lainnya,
semoga dapat kita jadikan sebagai nilai ruhiyah dan lahiriyah agar sikap dan
keperibadian kita dapat menjadi sosok dan cermin keperibadian sebagai orang
yang beriman dan bertaqwa baik sebagai pemimpin di dalam rumah tangga,
masyarakat, dalam tatanan sosial, politik, budaya, dll. Karena hanya orang yang
beriman dan bertakwalah yang pasti dijamin oleh Allah Swt selamat dunia dan
akhirat, sebagaimana firman-Nya yang menyebutkan,
وَأَنجَيْنَا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ {سورة النمل [27] : 53}
“Dan telah Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan
mereka itu selalu bertakwa” (QS. Annamal [27] : 53)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar