Selasa, 25 Juli 2017

Gotong Royong (Pemindahan Balai Madrasah)

Sejumlah warga Kampong Makmur Jaya Kecamatan Simpang Kiri Kota Subulussalam pada Hari Jum'at Tanggal 21 Juli 2017 bergotong royong memindahkan Balai Madrasah Diniyah Takmiliyah Miftahul Falah yang sebelumnya terletak di Lokasi Masjid Miftahul Falah di pindahkan ke Lokasi yang baru yaitu di lingkungan Musholla Al-Furqan Jln. Belimbing Dusun Sumber Agung Kampong Makmur Jaya, Masyarakat sangat antusias dalam melaksanakan gotong royong pemindahahan balai Belajar mengajar Madrasah Diniyah Takmiliyah Miftahul Falah. Harapannya dengan adanya Balai ini proses belajar mengajar di Madrasah dapat lebih baik.








Selasa, 18 Juli 2017

ORANG TUA YANG DURHAKA KEPADA ANAK NYA




Siapa orang tua yang tidak ingin anaknya menjadi anak shaleh dan shalehah? pastinya semua orang tua menginginkan itu. keinginan seperti itu tidak cukup dengan do'a saja. Tetapi orang tua juga harus berperan penting dalam pendidikan anak.


Meskipun banyak orang tua yang mengetahui, bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab yang besar, tetapi masih banyak orang tua yang lalai dan menganggap remeh masalah ini. Sehingga mengabaikan masalah pendidikan anak ini, sedikitpun tidak menaruh perhatian terhadap perkembangan anak-anaknya.


Baru kemudian, ketika anak-anak berbuat durhaka, melawan orang tua, atau menyimpang dari aturan agama dan tatanan sosial, banyak orang tua mulai kebakaran jenggot atau justru menyalahkan anaknya. Tragisnya, banyak yang tidak sadar, bahwa sebenarnya orang tuanyalah yang menjadi penyebab utama munculnya sikap durhaka itu.


Lalai atau salah dalam mendidik anak itu bermacam-macam bentuknya ; yang tanpa kita sadari memberi andil munculnya sikap durhaka kepada orang tua, maupun kenakalan remaja. Dan kedurhakaan anak itu sendiri disebabkan orang tua terlebih dahulu durhaka kepada anaknya sendiri. Sebagaimana kisah seorang laki-laki yang mengadukan kedurhakaan anaknya kepada khalifah Umar bin Khattab ra. Sebagai berikut,


Alkisah pada suatu hari, seorang laki-laki menemui Umar bin Khattab untuk mengadukan kedurhakaan anaknya. Umar memanggil anak tersebut dan menegur perbuatannya itu. Setelah itu anak tersebut bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah  anak memiliki hak atas orangtuanya?”


Umar menjawab, “Benar.”


“Apa hak anak?” tanya sang anak. Dijawab Umar, “Memilihkan calon ibu yang baik untuknya, memberinya nama yang baik, dan mengajarinya Al-Qur’an.”


Anak itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, ayahku tidak melakukan satu pun dari apa yang tuan sebutkan itu. Ibuku wanita berkulit hitam bekas budak beragama Majusi. Ia menamakanku Ju’lan (tikus), dan dia tidak mengajariku satu huruf pun dari Al-Qur’an.


Umar segera memandang orangtua itu dan berkata, “Engkau datang mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Engkau telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu.”


Belakangan ini sering kita menonton acara TV tentang kezaliman yang dilakukan orangtua kepada anaknya. Ada ayah yang memperkosa anaknya selama bertahun-tahun, Ibu yang menjual anaknya, menelantarkan anaknya sendiri bahkan ada yang sampai membunuh anak sendiri.  Padahal agama Islam sangat tidak suka kekerasan terhadap anak, termasuk tak menunjukkan kasih sayang kepada anak saja dilarang.


Dari Abu Hurairah ra katanya Rasulullah SAW mencium Hasan bin Ali. Ketika itu duduk Aqra bin Habis. Al Aqra berkata: ”Saya mempunyai sepuluh anak, tidak seorangpun di antara mereka yang pernah saya cium”. Rasulullah memandang kepadanya, kemudian berkata:”Siapa yang tidak mengasihi tidak akan di kasihi”(HR. Bukhari)


Islam memerintahkan perlindungan dan kasih sayang terhadap mereka sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw terhadap anaknya, cucunya, bahkan anak para sahabatnya. Beliau bersabda, “Man laa yarham laa  yurham” siapa yang tidak mencinta maka dia tidak dicintai. (HR. Muslim)


Ibnul Qoyyim ra mengatakan, “Bila terlihat kerusakan pada diri anak-anak, mayoritas penyebabnya adalah bersumber dari orangtuanya.”


Tidak salah memang Ibnul Qoyyim ra mengatakan seperti itu. Sebab orang tua saat ini banyak yang kurang waktunya bersama anak-anaknya. Karena kesibukan-kesibukan di luar sana yang bersifat duniawi. Terkadang berbulan-bulan baru bertemu dengan anak yang masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian.


Kenakalan anak remaja banyak disebabkan kurangnya kasih sayang dan perhatian dan contoh tauladan orang tuanya dirumah. Mereka hanya mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari seorang pembantu rumah tangga yang terkadang pendidikannya tidak tamat sekolah dasar. Tentu sangat jauh berbeda dengan kasih sayang orang tuanya sendiri.


Pendidikan agama anak hanya diserahkan kepada guru agamanya disekolah.


Tetapi orang tua juga harus berperan penting dalam pendidikan anak, sebab orang tua adalah pendidik utama dan pertama, bukan guru disekolah. guru disekolah itu sebagai orang tua yang kedua dan membantu orang tua dirumah sebagai orang tua utama yang lebih banyak bergaul dengan anaknya sendiri.


Firman Allah swt dalam Al-Qur’an sebagai nasehat untuk kita semua khususnya orangtua, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Qs. At-Tahrim: 6)


Untuk itulah sebagai orang tua harus menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini kepada anak.Itu akan menjadi modal baginya untuk tidak melakukan kezaliman. bahkan melindungi anak dari aniaya orang lain bahkan menganiaya orang lain. Kalau hal yang demikian sudah dilaksanakan berarti telah menjadi pemutus mata rantai kezaliman terhadap anak. Amirul Mukminin Ali ra memberikan teladan, “Ajarilah diri-diri kalian dan keluarga-keluarga kalian kebaikan dan bimbinglah mereka.


Rabu, 12 Juli 2017

Mendidik Anak dengan Teladan Shaleh


Kaum muslimin yang dirahmati Allah, bertakwalah kepada-Nya. Bersyukurlah atas nikmat yang telah Dia berikan, di antaranya adalah nikmat anak, baik anak laki-laki maupun anak perempuan.

Ketahuilah bahwa nikmat ini juga sekaligus merupakan ujian bagi seorang hamba. Anak pula merupakan anugerah yang menjadi penyejuk pandangan di dunia dan akhirat. Ia juga bisa membuat hati berbunga-bunga bahagia dan jiwa terasa lapang. Anak bisa menjadi penolong dalam mengarungi kehidupan dunia dan doa ketika memasuki gerbang akhirat. Mereka yang berkumpul dengan anak-anaknya di dunia dalam keadaan taat, maka akan dikumpulkan Allah di akhirat dalam kemuliaan. Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21).

Yaitu, apabila salah satu dari mereka berada di derajat yang tinggi dan satu lagi di bawah, maka Allah kumpulkan di derajat yang tinggi. Sehingga mereka bisa berkumpul sebagaimana mereka dahulu di dunia dikumpulkan.

Saudara-saudaraku seiman,

Sesungguhnya anugerah ini adalah anugerah yang agung. Yang bisa diwujudkan apabila orang tua, baik ayah maupun ibu, memiliki rasa tanggung jawab terhadap anak-anaknya. Karena merekalah yang membing sang anak di lingkungan pertama mereka. Mereka bertanggung jawab dalam membimbing anak-anaknya.

Hendaknya orang tua mendidik anak laki-laki dan perempuan dengan apa yang telah diwajibkan atas mereka. Memberikan perhatian, bimbingan, dan arahan yang baik. Sehingga orang tua kelak akan meninggalkan generasi yang baik, yang bermanfaat untuk dirinya dan umat Islam. Ketika seorang hamba memperbaiki antara dirinya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan sesama makhluk.

Tentu saja membimbing anak harus diiringi dengan niat yang baik, memohon pertolongan kepada Allah, memperbanyak doa yang penuh harap kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqon: 74).

Orang-orang yang memohon demikian, mereka tidaklah hanya duduk-duduk saja tanpa melakukan apapun. Syariat dan logika manusia mengatakan bahwa hal ini perlu usaha. Jika kita memohon sesuatu kepada Allah, kita harus mengusahakannya dengan perbuatan kita sebagai bentuk sebab-akibat. Misalnya seseorang meminta kepada Allah rezeki, ia haru berusaha menempuh sebab tergapainya rezeki. Demikian juga orang yang meminta keturunan, ia harus berusaha dengan menikahi seseorang. Orang yang meminta ditambahkan ilmu dan pemahaman, ia harus berusaha dengan belajar. Orang yang meminta surga, maka ia harus menggapai sebabnya dengan mengamalkan amalan shaleh yang bisa mengantarkannya ke surga.

Demikianlah, ketika seseorang meminta keturunan yang shaleh yang bisa menjadi penyejuk hatinya, maka ia harus berusaha dengan kemampuannya. Baru setelah itu ia merasakan bahwa anak yang shaleh adalah karunia yang agung.

Hal lainnya yang harus diperhatikan. Anak itu terkada bisa menjadi ujian dan kejelekan bagi keluarga dan masyarakat. yang demikian lantaran kedua orang tua tidak melakukan apa yang Allah wajibkan atas keduanya. Tidak melakukan pendidikan, perhatian, dan bimbingan secara maksimal. Kita lihat ada terkadang seseorang merasa malas mendidik anaknya. Ia tidak memberikan arahan yang baik terhadap buah hatinya. Akhirnya, ia pun terputus dari kemanfaatan di dunia dan akhirat. Jadilah ia seorang yang merugi dan menyesal. Allah Ta’ala berfirman,
فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِنْ دُونِهِ ۗ قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS. Az-Zumar: 15).

Namun ada fenomena yang mengherankan. Ada seseorang yang sibuk dengan menginvestasikan hartanya, menjaga, memperhatikannya, memeliharanya, dan pikiran dan badannya disibukkan dengan hartanya, bahkan istirahat dan tidurnya pun bersama hartanya, bersamaan dengan itumereka lupa dengan istri dan anak-anak mereka.

Tentunya kita bertanya, apa artinya harta itu disbanding dengan istri dan anak-anak? Bukankah akan lebih baik bagi mereka, jika seandainya meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran mereka untuk mendidik istri dan anak-anak? Dengan hal itu mereka akan menjadi orang-orang yang bersyukur dan melaksanakan perintah Allah. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6).

Allah Ta’ala meletakkan peranan kita dalam ayat ini. Ia menaruh tanggung jawab dan memerintahkan kita untuk menjagai diri dan keluarga dari api neraka. Dia tidak memerintahkan kita untuk mejagai dari diri kita saja, akan tetapi Dia firmankan untuk mejaga diri kita dan keluarga kita. Oleh karena itu, sangat mengherankan orang-orang yang meremehkan perintah Allah dalam menunaikan hak istri dan anak-anak.

Seandainya, api di dunia ini membakar anak-anak mereka, atau hanya sekedar hamper membakar anak mereka, niscaya mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelematkannya. Dengan segera mereka akan mencarikan dokter untuk mengobati luka bakar yang diderita anaknya. Lalu bagaimana bisa mereka merasa aman dari api akhirat? Mereka tidak berupaya untuk menjauhkan istri dan anak-anak mereka darinya. Kita tidak mengerti, apakah orang yang melakukan demikian ini ragu akan api yang ada di akhirat, ataukah lalai, atau mereka orang-orang yang menyombongkan diri?

Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua.

Saudara-saudaraku seiman,

Sesungguhnya wajib bagi kita semua untuk mengawasi anak-anak kita dalam tindak-tanduk yang mereka lakukan. Memperhatikan mereka di kalangan pergaulannya, saat mereka sendiri, sampai-sampai terhadap apa yang mereka lakukan. Beri motivasi dan pujian atas kebaikan yang mereka lakukan. Nasihati dan tegurlah mereka tatkala melakukan kesalahan. Jangan tergesa-gesa memarahi mereka apabila mereka tidak segera menunaikan apa yang kita perintahkan. Terus ulangi ajakan kebaikan itu dengan lemah lembut dan dengan cara yang mereka ridhai berdasarkan bimbingan Alquran, Sunnah, dan pikiran yang bersih. Dan jangan jauhi mereka.

Salah satu bentuk musibah bagi seseorang adalah ketika ia tidak memiliki kedekatan dengan anak-anak mereka dan tidak mendidik mereka dengan didikan yang baik. Orang tua juga hendaknya menginstrospeksi diri, apakah yang sudah dilakukan membuat mereka jauh?, apakah yang sudah dilakukan berdampak baik untuk mereka?.

Jauhkan dari anak-anak kita pemikiran-pemikiran yang jelek, pemikiran yang menyimpang, dan akhlak-akhlak yang merusak. Hal itu akan menumbuhkan generasi yang rusak pula. Generasi yang tidak dibina untuk mengabdi kepada Allah dan memiliki kemanfaatan untuk sesama. Generasi yang gamang dan bombing, tidak mengenal yang ma’ruf sebagai sesuatu yang baik dan tidak mampu membedakan yang mungkar sehingga bisa menjauhinya. Mereka bebas dari segala ikatan, kecuali ikatan setan. Mereka bebas dari segala pengabdian, kecuali mengabdi kepada syahwat dan kecongkakan. Inilah sebuah konsekuensi logis, bagi mereka yang menyia-nyiakan hak Allah di dalam pendidikan istri dan anak-anaknya. Tidak ada yang bisa terlepas dari yang demikian, kecuali bagi mereka yang dikehendaki Allah.
Saudara-saudaraku seiman,

Sebagian orang mengatakan “saya tidak bisa mendidik anak-anak saya karena mereka sudah besar dan telah mandiri”. Kalau kita perhatikan orang-orang demikian, mereka tidak mampu menasihati sang anak tatkala dewasa, entah sang anak membantahnya atau selainnya. Hal ini disebabkan karena orang tua adalah orang yang lalai terhadap perintah-perintah Allah terhadap anak-anaknya, sehingga jatuhlah wibawanya di hadapan sang anak.

Mereka lalai terhadap perintah Allah terhadap anak-anak mereka saat sang anak masih kecil. Mereka berpaling dan meninggalkan anak-anak mereka. Tidak bertanya tentang keadaan mereka. Dan tidak juga terbiasa berkumpul bersama mereka. Tidak berkumpul di saat makan siang, makan malam, dan dalam kegiatan lainnya. Sehingga muncullah jarak antara dirinya dan anak-anak. Anak-anak pun lari menjauh.

Seandainya mereka bertakwa kepada Allah sejak mula. Memperhatikan pendidikan anak sejak mereka masih kecil. pasti Allah akan memperbaiki hubungan mereka di dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70-71).

Ayyuhal muslimun,

Di masa-masa kegiatana belajar mengajar sedang aktif, sekolah mengambil waktu kita dan anak begitu banyak. Adapun di saat libur, kita banyak memiliki waktu luang dengan anak-anak kita, maka manfaatkanlah.

Saat libur waktu senggang, pikiran mereka juga tidak terbebani dengan sekolah, maka orang tua hendaknya memenuhi kekosongan tersebut dan memanfaatkan waktu-waktu tersebut. Mengajarkan kepada anak sesuatu yang bermanfaat, sehingga pikiran dan aktivitas mereka tidak tersisi dengan hal-hal yang sia-sia atau bahkan merugikan mereka.

Saat liburan, kita tunjukkan kesungguhan kita untuk berdekatan bersama mereka. Kita tunjukkan kesungguhan kita dalam pengarahan dan pendidikan. Saat itu pula kita curahkan perhatian kita, jangan sampai anak-anak mengisi kekosongan mereka dengan buku-buku dan majalah-majalah yang berisikan hal-hal yang merusak, pemikiran-pemikiran yang menyimpang, dan akhlak yang rendah. Dan hendaknya kita juga tidak memilih kota-kota atau bahkan negara-negara yang bisa merusak akidah dan akhlak sebagai tempat berlibur dan tujuan wisata.

Tidak kita ragukan lagi, sebagian tempat atau negara tujuan wisata adalah negara yang rusak. Banyak terdapat hal-hal yang mengundang syahwat dan merusak pemikiran. Semoga Allah melindungi kita dari hal-hal yang dapat merusak agama dan dunia kita.

Minggu, 09 Juli 2017

PHOTO


















SUSUNAN PENGURUS

SUSUNAN PENGURUS MADRASAH DINIYAH TAKMILIYAH 
MIFTAHUL FALAH

PEMBINA                        : KEMENTRIAN AGAMA KOTA SUBULUSSALAM
                                     : K.U.A. KECAMATAN SIMPANG KIRI
                                     : CAMAT KECAMATAN SIMPANG KIRI

PENGARAH                    : KEPALA KAMPONG MAKMUR JAYA
                                     : KETUA BPK MAKMUR JAYA
                                     : IR.SURAJI
                                     : H. ISMAIL.K,S.Pd
: SUKISNO

KEPALA MADRASAH       : MUHAMMAD KHOFID,S.Pd.I
WAKA. MADRASAH         : AHMAD LUTFI,SH.I
KEPALA TATA USAHA     : EKO WAHYONO,S.Pd.I
BENDAHARA                  : IIM ROHIMAH,S.Pd.I

SEKSI KURI KULUM                         : SUMARNI,S.Pd.I

SEKSI KESISWAAN                           : SAIFUL HAKIKI

SEKSI HUMAS                                  : RUSDI

SEKSI SARANA DAN PRASARANA     : RUDIANTO, SE

Sasaran yang ingin dicapai

  1. Memperdalam wawasan santri/murid makna yang terkandung dalam ibadah-ibadah yang diperintahkan Agama sehingga mampu mengimplementasikan nilai-nilai ajaran didalamnya pada kehidupan sehari-hari
  2. Membentuk kemampuan santri/murid dalam membaca Al-Qur’an secara baik dan benar sesuai kaidah-kaidah bacaannya.
  3. Melatih ketrampilan dan kedisiplinan santri/murid dalam menjalankan ritual Agamanya.

Tujuan Madrasah Diniyah Takmiliyah Miftahul Falah

Madrasah Diniyah Miftahul Falah didirikan dengan tujuan untuk :
  1. Meningkatkan pemahaman santri/murid  terhadap ilmu agama, sehingga mampu mengembangkan dirinya yang sejalan dengan norma-norma agama dan mampu mengamalkan dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
  1. Menumbuh kembangkan ilmu-ilmu islami dalam integrasi hubungan dengan Allah SWT, Rasul, Manusia, alam semesta bahkan dengan dirinya sendiri.
  1. Memberikan pemahaman mendalam kepada santri tentang ajaran Agama dan bagaimana mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Jumat, 07 Juli 2017

Manfaat Zakat, Infaq, Sedekah dah Hibah


Zakat, infaq (infak), sedekah (shadaqah) dan hibah, donasi adalah kosa kota yang memiliki kemiripan makna dengan sedikit perbedaan hukum. Berinfaq dan bersedekah sangat dianjurkan dalam syariah Islam sebagai salah satu cara untuk menyucikan hati dan menghapus dosa-dosa di masa lalu. Sedangkan zakat hukumnya wajib bagi muslim yang hartanya mencapai nishab dan sudah haul yakni sudah berusia setahun penuh menurut kalender hijriyah.

TUJUAN DAN KEUTAMAAN SEDEKAH

Sedekah atau infak adalah perilaku yang sangat terpuji yang dilakukan oleh seorang muslim yang ingin mendapatkan ridha Allah. Amal kebaikan yang juga biasa disebut dengan amal jariyah ini memiliki banyak manfaat baik di dunia maupun di akhirat. Berikut beberapa keutamaan dan manfaat sedekah atau berinfak berdasarkan dalil Al-Quran dan hadits sahih.

PENYUCIAN DIRI DARI DOSA

Menginfakkan sebagian harta untuk kemaslahatan umum atau sedekah bertujuan salah satunya untuk menyucikan diri sebagai salah satu cara untuk bertaubat. Allah berfirman dalam QS At-Taubah ayat 104 “Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.


BAGI HAMBA ALLAH YANG INGIN BERINVESTASI
AKHIRAT

UNTUK KELANJUTAN PEMBANGUNAN
GEDUNG SARANA DAN PRASARANA
MADRASAH DINIYAH TAKMILIYAH
MIFTAHUL FALAH

DAPAT MENGHUBUNGI KOMITE MADRASAH DINIYAH 

FACHRI SAWARE 0812 6904 1975
RUDIANTO              0812 6987 1715

ATAU TRANSFER MELALUI REKENING
BANK RAKYAT INDONESIA (BRI)
3526-01-021933-53-4
ATAS NAMA MDT MIFTAHUL FALAH























































PENERIMAAN SANTRI BARU TAHUN 2017



Kamis, 06 Juli 2017

MISI


VISI


KOMITE MADRASAH

SUSUNAN PENGURUS KOMITE MADRASAH DINIYAH TAKMILIYAH
MIFTAHUL FALAH
KAMPONG MAKMUR JAYA KECAMATAN SIMPANG KIRI
KOTA SUBULUSSALAM


PEMBINA                    : KEMENTRIAN AGAMA KOTA SUBULUSSALAM
                                        : K.U.A. KECAMATAN SIMPANG KIRI
                                        : CAMAT KECAMATAN SIMPANG KIRI

PENGARAH                : KEPALA KAMPONG MAKMUR JAYA
                                        : KETUA BPK MAKMUR JAYA
                                        : IR.SURAJI
                                        : H. ISMAIL.K,S.P
                                        : SUKISNO

KETUA UMUM             : FACHRI SAWARE
KETUA I                         : SURADIANTO
KETUA II                        : TAMIN
SEKRETARIS                 : RUDIANTO,SE
BENDAHARA                : PAJAR

SEKSI PEMBANGUNAN                        : DARO JATI
                                                                      : BUDI WAHYONO
                                                                      : TAMYIS
                                                                      : SLAMET PRAYETNO

SEKSI HUMAS                                          : ISWANTO
                                                                       : KHAIRUL ISLAM
                                                                       : MUSIFAK

SEKSI PENDANAAN                               : TRI MULYANTO
                                                                      : SUPRAYETNO
                                                                      : AJAD SUDRAJAD

SEKSI SARANA DAN PRASARANA    : SUGENG TIRTONO
                                                                      : EKO PRASETIO,S.Pd.I
                                                                      : PARTIONO

SEKSI PENGAWAS BELAJAR               : RUJIONO
                                                                       : HARTONO
                                                                  : WAHID