Selasa, 25 Juli 2017
Selasa, 18 Juli 2017
ORANG TUA YANG DURHAKA KEPADA ANAK NYA
Siapa orang tua yang tidak ingin anaknya menjadi anak shaleh dan shalehah? pastinya semua orang tua menginginkan itu. keinginan seperti itu tidak cukup dengan do'a saja. Tetapi orang tua juga harus berperan penting dalam pendidikan anak.
Meskipun banyak orang tua yang mengetahui,
bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab yang besar, tetapi masih banyak
orang tua yang lalai dan menganggap remeh masalah ini. Sehingga mengabaikan
masalah pendidikan anak ini, sedikitpun tidak menaruh perhatian terhadap perkembangan
anak-anaknya.
Baru kemudian, ketika anak-anak berbuat
durhaka, melawan orang tua, atau menyimpang dari aturan agama dan tatanan
sosial, banyak orang tua mulai kebakaran jenggot atau justru menyalahkan
anaknya. Tragisnya, banyak yang tidak sadar, bahwa sebenarnya orang tuanyalah
yang menjadi penyebab utama munculnya sikap durhaka itu.
Lalai atau salah dalam mendidik anak itu
bermacam-macam bentuknya ; yang tanpa kita sadari memberi andil munculnya sikap
durhaka kepada orang tua, maupun kenakalan remaja. Dan kedurhakaan anak itu
sendiri disebabkan orang tua terlebih dahulu durhaka kepada anaknya sendiri.
Sebagaimana kisah seorang laki-laki yang mengadukan kedurhakaan anaknya kepada
khalifah Umar bin Khattab ra. Sebagai berikut,
Alkisah pada suatu hari, seorang laki-laki
menemui Umar bin Khattab untuk mengadukan kedurhakaan anaknya. Umar memanggil
anak tersebut dan menegur perbuatannya itu. Setelah itu anak tersebut bertanya,
“Wahai Amirul Mukminin, bukankah
anak memiliki hak atas orangtuanya?”
Umar menjawab, “Benar.”
“Apa hak anak?” tanya sang anak. Dijawab Umar,
“Memilihkan calon ibu yang baik untuknya, memberinya nama yang baik, dan
mengajarinya Al-Qur’an.”
Anak itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin,
ayahku tidak melakukan satu pun dari apa yang tuan sebutkan itu. Ibuku wanita
berkulit hitam bekas budak beragama Majusi. Ia menamakanku Ju’lan (tikus), dan
dia tidak mengajariku satu huruf pun dari Al-Qur’an.
Umar segera memandang orangtua itu dan berkata,
“Engkau datang mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau telah durhaka
kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Engkau telah berbuat buruk kepadanya
sebelum ia berbuat buruk kepadamu.”
Belakangan ini sering kita menonton acara TV
tentang kezaliman yang dilakukan orangtua kepada anaknya. Ada ayah yang memperkosa
anaknya selama bertahun-tahun, Ibu yang menjual anaknya, menelantarkan anaknya
sendiri bahkan ada yang sampai membunuh anak sendiri. Padahal agama Islam
sangat tidak suka kekerasan terhadap anak, termasuk tak menunjukkan kasih
sayang kepada anak saja dilarang.
Dari Abu Hurairah ra katanya Rasulullah SAW
mencium Hasan bin Ali. Ketika itu duduk Aqra bin Habis. Al Aqra berkata: ”Saya
mempunyai sepuluh anak, tidak seorangpun di antara mereka yang pernah saya
cium”. Rasulullah memandang kepadanya, kemudian berkata:”Siapa yang tidak
mengasihi tidak akan di kasihi”(HR. Bukhari)
Islam memerintahkan perlindungan dan kasih
sayang terhadap mereka sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw terhadap
anaknya, cucunya, bahkan anak para sahabatnya. Beliau bersabda, “Man laa yarham
laa yurham” siapa yang tidak mencinta maka dia tidak dicintai. (HR.
Muslim)
Ibnul Qoyyim ra mengatakan, “Bila terlihat
kerusakan pada diri anak-anak, mayoritas penyebabnya adalah bersumber dari
orangtuanya.”
Tidak salah memang Ibnul Qoyyim ra mengatakan
seperti itu. Sebab orang tua saat ini banyak yang kurang waktunya bersama
anak-anaknya. Karena kesibukan-kesibukan di luar sana yang bersifat duniawi.
Terkadang berbulan-bulan baru bertemu dengan anak yang masih membutuhkan kasih
sayang dan perhatian.
Kenakalan anak remaja banyak disebabkan
kurangnya kasih sayang dan perhatian dan contoh tauladan orang tuanya dirumah.
Mereka hanya mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari seorang pembantu rumah
tangga yang terkadang pendidikannya tidak tamat sekolah dasar. Tentu sangat
jauh berbeda dengan kasih sayang orang tuanya sendiri.
Pendidikan agama anak hanya diserahkan kepada
guru agamanya disekolah.
Tetapi orang tua juga harus berperan penting
dalam pendidikan anak, sebab orang tua adalah pendidik utama dan pertama, bukan
guru disekolah. guru disekolah itu sebagai orang tua yang kedua dan membantu
orang tua dirumah sebagai orang tua utama yang lebih banyak bergaul dengan
anaknya sendiri.
Firman Allah swt dalam Al-Qur’an sebagai
nasehat untuk kita semua khususnya orangtua, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian
dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap
apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan.” (Qs. At-Tahrim: 6)
Untuk itulah sebagai orang tua harus menanamkan
nilai-nilai Islam sejak dini kepada anak.Itu akan menjadi modal baginya untuk tidak
melakukan kezaliman. bahkan melindungi anak dari aniaya orang lain bahkan
menganiaya orang lain. Kalau hal yang demikian sudah dilaksanakan berarti telah
menjadi pemutus mata rantai kezaliman terhadap anak. Amirul Mukminin Ali ra
memberikan teladan, “Ajarilah diri-diri kalian dan keluarga-keluarga kalian
kebaikan dan bimbinglah mereka.
Rabu, 12 Juli 2017
Mendidik Anak dengan Teladan Shaleh
Kaum
muslimin yang dirahmati Allah, bertakwalah kepada-Nya. Bersyukurlah atas nikmat
yang telah Dia berikan, di antaranya adalah nikmat anak, baik anak laki-laki
maupun anak perempuan.
Ketahuilah
bahwa nikmat ini juga sekaligus merupakan ujian bagi seorang hamba. Anak pula
merupakan anugerah yang menjadi penyejuk pandangan di dunia dan akhirat. Ia
juga bisa membuat hati berbunga-bunga bahagia dan jiwa terasa lapang. Anak bisa
menjadi penolong dalam mengarungi kehidupan dunia dan doa ketika memasuki
gerbang akhirat. Mereka yang berkumpul dengan anak-anaknya di dunia dalam
keadaan taat, maka akan dikumpulkan Allah di akhirat dalam kemuliaan. Allah
Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ
أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ
شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
“Dan
orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam
keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada
mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan
apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21).
Yaitu,
apabila salah satu dari mereka berada di derajat yang tinggi dan satu lagi di
bawah, maka Allah kumpulkan di derajat yang tinggi. Sehingga mereka bisa
berkumpul sebagaimana mereka dahulu di dunia dikumpulkan.
Saudara-saudaraku seiman,
Sesungguhnya
anugerah ini adalah anugerah yang agung. Yang bisa diwujudkan apabila orang
tua, baik ayah maupun ibu, memiliki rasa tanggung jawab terhadap anak-anaknya.
Karena merekalah yang membing sang anak di lingkungan pertama mereka. Mereka
bertanggung jawab dalam membimbing anak-anaknya.
Hendaknya
orang tua mendidik anak laki-laki dan perempuan dengan apa yang telah
diwajibkan atas mereka. Memberikan perhatian, bimbingan, dan arahan yang baik.
Sehingga orang tua kelak akan meninggalkan generasi yang baik, yang bermanfaat
untuk dirinya dan umat Islam. Ketika seorang hamba memperbaiki antara dirinya
dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan sesama makhluk.
Tentu
saja membimbing anak harus diiringi dengan niat yang baik, memohon pertolongan
kepada Allah, memperbanyak doa yang penuh harap kepada Allah. Allah Ta’ala
berfirman,
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Dan
orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami
isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan
jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqon: 74).
Orang-orang
yang memohon demikian, mereka tidaklah hanya duduk-duduk saja tanpa melakukan
apapun. Syariat dan logika manusia mengatakan bahwa hal ini perlu usaha. Jika
kita memohon sesuatu kepada Allah, kita harus mengusahakannya dengan perbuatan
kit a sebagai bentuk sebab-akibat. Misalnya seseorang meminta kepada Allah
rezeki, ia haru berusaha menempuh sebab tergapainya rezeki. Demikian juga orang
yang meminta keturunan, ia harus berusaha dengan menikahi seseorang. Orang yang
meminta ditambahkan ilmu dan pemahaman, ia harus berusaha dengan belajar. Orang
yang meminta surga, maka ia harus menggapai sebabnya dengan mengamalkan amalan
shaleh yang bisa mengantarkannya ke surga.
Demikianlah,
ketika seseorang meminta keturunan yang shaleh yang bisa menjadi penyejuk
hatinya, maka ia harus berusaha dengan kemampuannya. Baru setelah itu ia
merasakan bahwa anak yang shaleh adalah karunia yang agung.
Hal
lainnya yang harus diperhatikan. Anak itu terkada bisa menjadi ujian dan
kejelekan bagi keluarga dan masyarakat. yang demikian lantaran kedua orang tua
tidak melakukan apa yang Allah wajibkan atas keduanya. Tidak melakukan
pendidikan, perhatian, dan bimbingan secara maksimal. Kita lihat ada terkadang
seseorang merasa malas mendidik anaknya. Ia tidak memberikan arahan yang baik
terhadap buah hatinya. Akhirnya, ia pun terputus dari kemanfaatan di dunia dan
akhirat. Jadilah ia seorang yang merugi dan menyesal. Allah Ta’ala berfirman,
فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِنْ دُونِهِ ۗ قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ
الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا
ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
Katakanlah:
“Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri
mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. Ingatlah yang demikian itu
adalah kerugian yang nyata. (QS. Az-Zumar: 15).
Namun
ada fenomena yang mengherankan. Ada seseorang yang sibuk dengan
menginvestasikan hartanya, menjaga, memperhatikannya, memeliharanya, dan
pikiran dan badannya disibukkan dengan hartanya, bahkan istirahat dan tidurnya
pun bersama hartanya, bersamaan dengan itumereka lupa dengan istri dan
anak-anak mereka.
Tentunya
kita bertanya, apa artinya harta itu disbanding dengan istri dan anak-anak?
Bukankah akan lebih baik bagi mereka, jika seandainya meluangkan waktu, tenaga,
dan pikiran mereka untuk mendidik istri dan anak-anak? Dengan hal itu mereka
akan menjadi orang-orang yang bersyukur dan melaksanakan perintah Allah. Allah
Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ
نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ
لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya
kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim:
6).
Allah
Ta’ala meletakkan peranan kita dalam ayat ini. Ia menaruh tanggung jawab dan
memerintahkan kita untuk menjagai diri dan keluarga dari api neraka. Dia tidak
memerintahkan kita untuk mejagai dari diri kita saja, akan tetapi Dia firmankan
untuk mejaga diri kita dan keluarga kita. Oleh karena itu, sangat mengherankan
orang-orang yang meremehkan perintah Allah dalam menunaikan hak istri dan
anak-anak.
Seandainya,
api di dunia ini membakar anak-anak mereka, atau hanya sekedar hamper membakar
anak mereka, niscaya mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelematkannya.
Dengan segera mereka akan mencarikan dokter untuk mengobati luka bakar yang
diderita anaknya. Lalu bagaimana bisa mereka merasa aman dari api akhirat?
Mereka tidak berupaya untuk menjauhkan istri dan anak-anak mereka darinya. Kita
tidak mengerti, apakah orang yang melakukan demikian ini ragu akan api yang ada
di akhirat, ataukah lalai, atau mereka orang-orang yang menyombongkan diri?
Semoga Allah memberikan hidayah
kepada kita semua.
Saudara-saudaraku seiman,
Sesungguhnya
wajib bagi kita semua untuk mengawasi anak-anak kita dalam tindak-tanduk yang
mereka lakukan. Memperhatikan mereka di kalangan pergaulannya, saat mereka
sendiri, sampai-sampai terhadap apa yang mereka lakukan. Beri motivasi dan
pujian atas kebaikan yang mereka lakukan. Nasihati dan tegurlah mereka tatkala
melakukan kesalahan. Jangan tergesa-gesa memarahi mereka apabila mereka tidak
segera menunaikan apa yang kita perintahkan. Terus ulangi ajakan kebaikan itu
dengan lemah lembut dan dengan cara yang mereka ridhai berdasarkan bimbingan
Alquran, Sunnah, dan pikiran yang bersih. Dan jangan jauhi mereka.
Salah
satu bentuk musibah bagi seseorang adalah ketika ia tidak memiliki kedekatan
dengan anak-anak mereka dan tidak mendidik mereka dengan didikan yang baik.
Orang tua juga hendaknya menginstrospeksi diri, apakah yang sudah dilakukan
membuat mereka jauh?, apakah yang sudah dilakukan berdampak baik untuk mereka?.
Jauhkan
dari anak-anak kita pemikiran-pemikiran yang jelek, pemikiran yang menyimpang,
dan akhlak-akhlak yang merusak. Hal itu akan menumbuhkan generasi yang rusak
pula. Generasi yang tidak dibina untuk mengabdi kepada Allah dan memiliki
kemanfaatan untuk sesama. Generasi yang gamang dan bombing, tidak mengenal yang
ma’ruf sebagai sesuatu yang baik dan tidak mampu membedakan yang mungkar
sehingga bisa menjauhinya. Mereka bebas dari segala ikatan, kecuali ikatan
setan. Mereka bebas dari segala pengabdian, kecuali mengabdi kepada syahwat dan
kecongkakan. Inilah sebuah konsekuensi logis, bagi mereka yang menyia-nyiakan
hak Allah di dalam pendidikan istri dan anak-anaknya. Tidak ada yang bisa
terlepas dari yang demikian, kecuali bagi mereka yang dikehendaki Allah.
Saudara-saudaraku seiman,
Sebagian
orang mengatakan “saya tidak bisa mendidik anak-anak saya karena mereka sudah
besar dan telah mandiri”. Kalau kita perhatikan orang-orang demikian, mereka
tidak mampu menasihati sang anak tatkala dewasa, entah sang anak membantahnya
atau selainnya. Hal ini disebabkan karena orang tua adalah orang yang lalai
terhadap perintah-perintah Allah terhadap anak-anaknya, sehingga jatuhlah
wibawanya di hadapan sang anak.
Mereka
lalai terhadap perintah Allah terhadap anak-anak mereka saat sang anak masih
kecil. Mereka berpaling dan meninggalkan anak-anak mereka. Tidak bertanya
tentang keadaan mereka. Dan tidak juga terbiasa berkumpul bersama mereka. Tidak
berkumpul di saat makan siang, makan malam, dan dalam kegiatan lainnya. Sehingga
muncullah jarak antara dirinya dan anak-anak. Anak-anak pun lari menjauh.
Seandainya
mereka bertakwa kepada Allah sejak mula. Memperhatikan pendidikan anak sejak
mereka masih kecil. pasti Allah akan memperbaiki hubungan mereka di dunia dan
akhirat. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا
قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah
perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan
mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya,
maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab:
70-71).
Ayyuhal
muslimun,
Di
masa-masa kegiatana belajar mengajar sedang aktif, sekolah mengambil waktu kita
dan anak begitu banyak. Adapun di saat libur, kita banyak memiliki waktu luang
dengan anak-anak kita, maka manfaatkanlah.
Saat
libur waktu senggang, pikiran mereka juga tidak terbebani dengan sekolah, maka
orang tua hendaknya memenuhi kekosongan tersebut dan memanfaatkan waktu-waktu
tersebut. Mengajarkan kepada anak sesuatu yang bermanfaat, sehingga pikiran dan
aktivitas mereka tidak tersisi dengan hal-hal yang sia-sia atau bahkan
merugikan mereka.
Saat
liburan, kita tunjukkan kesungguhan kita untuk berdekatan bersama mereka. Kita
tunjukkan kesungguhan kita dalam pengarahan dan pendidikan. Saat itu pula kita
curahkan perhatian kita, jangan sampai anak-anak mengisi kekosongan mereka
dengan buku-buku dan majalah-majalah yang berisikan hal-hal yang merusak,
pemikiran-pemikiran yang menyimpang, dan akhlak yang rendah. Dan hendaknya kita
juga tidak memilih kota-kota atau bahkan negara-negara yang bisa merusak akidah
dan akhlak sebagai tempat berlibur dan tujuan wisata.
Tidak
kita ragukan lagi, sebagian tempat atau negara tujuan wisata adalah negara yang
rusak. Banyak terdapat hal-hal yang mengundang syahwat dan merusak pemikiran.
Semoga Allah melindungi kita dari hal-hal yang dapat merusak agama dan dunia
kita.
Hendaknya
orang tua mendidik anak laki-laki dan perempuan dengan apa yang telah
diwajibkan atas mereka. Memberikan perhatian, bimbingan, dan arahan yang baik.
Sehingga orang tua kelak akan meninggalkan generasi yang baik, yang bermanfaat
untuk dirinya dan umat Islam. Ketika seorang hamba memperbaiki antara dirinya
dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan sesama makhluk.
Orang-orang
yang memohon demikian, mereka tidaklah hanya duduk-duduk saja tanpa melakukan
apapun. Syariat dan logika manusia mengatakan bahwa hal ini perlu usaha. Jika
kita memohon sesuatu kepada Allah, kita harus mengusahakannya dengan perbuatan
kitSelasa, 11 Juli 2017
Minggu, 09 Juli 2017
SUSUNAN PENGURUS
SUSUNAN PENGURUS MADRASAH DINIYAH TAKMILIYAH
MIFTAHUL
FALAH
PEMBINA : KEMENTRIAN AGAMA KOTA
SUBULUSSALAM
: K.U.A.
KECAMATAN SIMPANG KIRI
: CAMAT
KECAMATAN SIMPANG KIRI
PENGARAH : KEPALA KAMPONG MAKMUR JAYA
: KETUA BPK MAKMUR JAYA
:
IR.SURAJI
: H.
ISMAIL.K,S.Pd
: SUKISNO
KEPALA MADRASAH : MUHAMMAD
KHOFID,S.Pd.I
WAKA. MADRASAH :
AHMAD LUTFI,SH.I
KEPALA TATA USAHA : EKO WAHYONO,S.Pd.I
BENDAHARA : IIM
ROHIMAH,S.Pd.I
SEKSI KURI
KULUM : SUMARNI,S.Pd.I
SEKSI
KESISWAAN : SAIFUL
HAKIKI
SEKSI HUMAS :
RUSDI
Sasaran yang ingin dicapai
- Memperdalam wawasan santri/murid makna yang
terkandung dalam ibadah-ibadah yang diperintahkan Agama sehingga mampu
mengimplementasikan nilai-nilai ajaran didalamnya pada kehidupan sehari-hari
- Membentuk kemampuan santri/murid dalam membaca
Al-Qur’an secara baik dan benar sesuai kaidah-kaidah bacaannya.
- Melatih
ketrampilan dan kedisiplinan santri/murid dalam menjalankan ritual Agamanya.
Tujuan Madrasah Diniyah Takmiliyah Miftahul Falah
Madrasah Diniyah Miftahul Falah didirikan dengan tujuan
untuk :
- Meningkatkan pemahaman
santri/murid terhadap ilmu agama, sehingga mampu mengembangkan dirinya
yang sejalan dengan norma-norma agama dan mampu mengamalkan dalam perkembangan
ilmu pengetahuan.
- Menumbuh kembangkan ilmu-ilmu
islami dalam integrasi hubungan dengan Allah SWT, Rasul, Manusia, alam semesta
bahkan dengan dirinya sendiri.
- Memberikan pemahaman mendalam
kepada santri tentang ajaran Agama dan bagaimana mengimplementasikannya dalam
kehidupan sehari-hari.
Jumat, 07 Juli 2017
Manfaat Zakat, Infaq, Sedekah dah Hibah
Zakat, infaq (infak), sedekah (shadaqah) dan hibah, donasi
adalah kosa kota yang memiliki kemiripan makna dengan sedikit perbedaan hukum.
Berinfaq dan bersedekah sangat dianjurkan dalam syariah Islam sebagai salah
satu cara untuk menyucikan hati dan menghapus dosa-dosa di masa lalu. Sedangkan
zakat hukumnya wajib bagi muslim yang hartanya mencapai nishab dan sudah haul
yakni sudah berusia setahun penuh menurut kalender hijriyah.
TUJUAN DAN KEUTAMAAN SEDEKAH
Sedekah atau infak adalah perilaku yang sangat terpuji yang dilakukan oleh
seorang muslim yang ingin mendapatkan ridha Allah. Amal kebaikan yang juga
biasa disebut dengan amal jariyah ini memiliki banyak manfaat baik di dunia
maupun di akhirat. Berikut beberapa keutamaan dan manfaat sedekah atau berinfak
berdasarkan dalil Al-Quran dan hadits sahih.
PENYUCIAN DIRI DARI DOSA
Menginfakkan sebagian harta untuk kemaslahatan umum atau sedekah bertujuan
salah satunya untuk menyucikan diri sebagai salah satu cara untuk bertaubat.
Allah berfirman dalam QS At-Taubah ayat 104 “Tidaklah mereka mengetahui,
bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan
bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
BAGI HAMBA ALLAH YANG INGIN BERINVESTASI
AKHIRAT
UNTUK KELANJUTAN PEMBANGUNAN
GEDUNG SARANA DAN PRASARANA
MADRASAH DINIYAH TAKMILIYAH
MIFTAHUL FALAH
DAPAT MENGHUBUNGI KOMITE MADRASAH DINIYAH
FACHRI SAWARE 0812 6904 1975
RUDIANTO 0812 6987 1715
ATAU TRANSFER MELALUI REKENING
BANK RAKYAT INDONESIA (BRI)
3526-01-021933-53-4
ATAS NAMA MDT MIFTAHUL FALAH
Zakat, infaq (infak), sedekah (shadaqah) dan hibah, donasi adalah kosa kota yang memiliki kemiripan makna dengan sedikit perbedaan hukum. Berinfaq dan bersedekah sangat dianjurkan dalam syariah Islam sebagai salah satu cara untuk menyucikan hati dan menghapus dosa-dosa di masa lalu. Sedangkan zakat hukumnya wajib bagi muslim yang hartanya mencapai nishab dan sudah haul yakni sudah berusia setahun penuh menurut kalender hijriyah.
TUJUAN DAN KEUTAMAAN SEDEKAH
Sedekah atau infak adalah perilaku yang sangat terpuji yang dilakukan oleh seorang muslim yang ingin mendapatkan ridha Allah. Amal kebaikan yang juga biasa disebut dengan amal jariyah ini memiliki banyak manfaat baik di dunia maupun di akhirat. Berikut beberapa keutamaan dan manfaat sedekah atau berinfak berdasarkan dalil Al-Quran dan hadits sahih.
Menginfakkan sebagian harta untuk kemaslahatan umum atau sedekah bertujuan salah satunya untuk menyucikan diri sebagai salah satu cara untuk bertaubat. Allah berfirman dalam QS At-Taubah ayat 104 “Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
BAGI HAMBA ALLAH YANG INGIN BERINVESTASI
AKHIRAT
UNTUK KELANJUTAN PEMBANGUNAN
GEDUNG SARANA DAN PRASARANA
MADRASAH DINIYAH TAKMILIYAH
MIFTAHUL FALAH
DAPAT MENGHUBUNGI KOMITE MADRASAH DINIYAH
FACHRI SAWARE 0812 6904 1975
RUDIANTO 0812 6987 1715
ATAU TRANSFER MELALUI REKENING
BANK RAKYAT INDONESIA (BRI)
3526-01-021933-53-4
ATAS NAMA MDT MIFTAHUL FALAH
Kamis, 06 Juli 2017
KOMITE MADRASAH
SUSUNAN PENGURUS KOMITE MADRASAH DINIYAH TAKMILIYAH
MIFTAHUL FALAH
KAMPONG
MAKMUR JAYA KECAMATAN SIMPANG KIRI
KOTA
SUBULUSSALAM
PEMBINA : KEMENTRIAN AGAMA KOTA
SUBULUSSALAM
: K.U.A. KECAMATAN SIMPANG KIRI
: CAMAT KECAMATAN SIMPANG KIRI
PENGARAH : KEPALA KAMPONG MAKMUR JAYA
: KETUA BPK MAKMUR JAYA
: IR.SURAJI
: H. ISMAIL.K,S.P
: SUKISNO
KETUA UMUM : FACHRI SAWARE
KETUA I : SURADIANTO
KETUA II : TAMIN
SEKRETARIS : RUDIANTO,SE
BENDAHARA : PAJAR
SEKSI PEMBANGUNAN : DARO JATI
:
BUDI WAHYONO
: TAMYIS
: SLAMET
PRAYETNO
SEKSI HUMAS : ISWANTO
: KHAIRUL
ISLAM
: MUSIFAK
SEKSI PENDANAAN : TRI MULYANTO
:
SUPRAYETNO
: AJAD
SUDRAJAD
SEKSI SARANA DAN
PRASARANA : SUGENG TIRTONO
: EKO PRASETIO,S.Pd.I
: PARTIONO
SEKSI PENGAWAS BELAJAR : RUJIONO
: HARTONO
:
WAHID
Langganan:
Postingan (Atom)





























