Siapa orang tua yang tidak ingin anaknya
menjadi anak shaleh dan shalehah? pastinya semua orang tua menginginkan itu.
keinginan seperti itu tidak cukup dengan do'a saja. Tetapi orang tua juga harus
berperan penting dalam pendidikan anak.
Meskipun banyak orang tua yang mengetahui,
bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab yang besar, tetapi masih banyak
orang tua yang lalai dan menganggap remeh masalah ini. Sehingga mengabaikan
masalah pendidikan anak ini, sedikitpun tidak menaruh perhatian terhadap perkembangan
anak-anaknya.
Baru kemudian, ketika anak-anak berbuat
durhaka, melawan orang tua, atau menyimpang dari aturan agama dan tatanan
sosial, banyak orang tua mulai kebakaran jenggot atau justru menyalahkan
anaknya. Tragisnya, banyak yang tidak sadar, bahwa sebenarnya orang tuanyalah
yang menjadi penyebab utama munculnya sikap durhaka itu.
Lalai atau salah dalam mendidik anak itu
bermacam-macam bentuknya ; yang tanpa kita sadari memberi andil munculnya sikap
durhaka kepada orang tua, maupun kenakalan remaja. Dan kedurhakaan anak itu
sendiri disebabkan orang tua terlebih dahulu durhaka kepada anaknya sendiri.
Sebagaimana kisah seorang laki-laki yang mengadukan kedurhakaan anaknya kepada
khalifah Umar bin Khattab ra. Sebagai berikut,
Alkisah pada suatu hari, seorang laki-laki
menemui Umar bin Khattab untuk mengadukan kedurhakaan anaknya. Umar memanggil
anak tersebut dan menegur perbuatannya itu. Setelah itu anak tersebut bertanya,
“Wahai Amirul Mukminin, bukankah
anak memiliki hak atas orangtuanya?”
Umar menjawab, “Benar.”
“Apa hak anak?” tanya sang anak. Dijawab Umar,
“Memilihkan calon ibu yang baik untuknya, memberinya nama yang baik, dan
mengajarinya Al-Qur’an.”
Anak itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin,
ayahku tidak melakukan satu pun dari apa yang tuan sebutkan itu. Ibuku wanita
berkulit hitam bekas budak beragama Majusi. Ia menamakanku Ju’lan (tikus), dan
dia tidak mengajariku satu huruf pun dari Al-Qur’an.
Umar segera memandang orangtua itu dan berkata,
“Engkau datang mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau telah durhaka
kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Engkau telah berbuat buruk kepadanya
sebelum ia berbuat buruk kepadamu.”
Belakangan ini sering kita menonton acara TV
tentang kezaliman yang dilakukan orangtua kepada anaknya. Ada ayah yang memperkosa
anaknya selama bertahun-tahun, Ibu yang menjual anaknya, menelantarkan anaknya
sendiri bahkan ada yang sampai membunuh anak sendiri. Padahal agama Islam
sangat tidak suka kekerasan terhadap anak, termasuk tak menunjukkan kasih
sayang kepada anak saja dilarang.
Dari Abu Hurairah ra katanya Rasulullah SAW
mencium Hasan bin Ali. Ketika itu duduk Aqra bin Habis. Al Aqra berkata: ”Saya
mempunyai sepuluh anak, tidak seorangpun di antara mereka yang pernah saya
cium”. Rasulullah memandang kepadanya, kemudian berkata:”Siapa yang tidak
mengasihi tidak akan di kasihi”(HR. Bukhari)
Islam memerintahkan perlindungan dan kasih
sayang terhadap mereka sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw terhadap
anaknya, cucunya, bahkan anak para sahabatnya. Beliau bersabda, “Man laa yarham
laa yurham” siapa yang tidak mencinta maka dia tidak dicintai. (HR.
Muslim)
Ibnul Qoyyim ra mengatakan, “Bila terlihat
kerusakan pada diri anak-anak, mayoritas penyebabnya adalah bersumber dari
orangtuanya.”
Tidak salah memang Ibnul Qoyyim ra mengatakan
seperti itu. Sebab orang tua saat ini banyak yang kurang waktunya bersama
anak-anaknya. Karena kesibukan-kesibukan di luar sana yang bersifat duniawi.
Terkadang berbulan-bulan baru bertemu dengan anak yang masih membutuhkan kasih
sayang dan perhatian.
Kenakalan anak remaja banyak disebabkan
kurangnya kasih sayang dan perhatian dan contoh tauladan orang tuanya dirumah.
Mereka hanya mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari seorang pembantu rumah
tangga yang terkadang pendidikannya tidak tamat sekolah dasar. Tentu sangat
jauh berbeda dengan kasih sayang orang tuanya sendiri.
Pendidikan agama anak hanya diserahkan kepada
guru agamanya disekolah.
Tetapi orang tua juga harus berperan penting
dalam pendidikan anak, sebab orang tua adalah pendidik utama dan pertama, bukan
guru disekolah. guru disekolah itu sebagai orang tua yang kedua dan membantu
orang tua dirumah sebagai orang tua utama yang lebih banyak bergaul dengan
anaknya sendiri.
Firman Allah swt dalam Al-Qur’an sebagai
nasehat untuk kita semua khususnya orangtua, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian
dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap
apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan.” (Qs. At-Tahrim: 6)
Untuk itulah sebagai orang tua harus menanamkan
nilai-nilai Islam sejak dini kepada anak.Itu akan menjadi modal baginya untuk tidak
melakukan kezaliman. bahkan melindungi anak dari aniaya orang lain bahkan
menganiaya orang lain. Kalau hal yang demikian sudah dilaksanakan berarti telah
menjadi pemutus mata rantai kezaliman terhadap anak. Amirul Mukminin Ali ra
memberikan teladan, “Ajarilah diri-diri kalian dan keluarga-keluarga kalian
kebaikan dan bimbinglah mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar